Penetapan Mutu Ekstrak Etanol Kulit Batang Banyuru (Pterospermum celebicum, Miq.) Sebagai Bahan Baku Sediaan Herbal Terstandar
DOI:
https://doi.org/10.25026/mpc.v3i2.94Keywords:
Banyuru (Pterospermum celebicum, Miq),, Quality, Bark, Ethanol ExtractAbstract
Penelitian penetapan mutu ekstrak etanol kulit batang Banyuru (Pterospermum celebicum, Miq), telah dilakukan, yang berasal dari daerah Bantaeng, Malino dan Pare-Pare, yang merupakan tanaman spesifik. digunakan sebagai tanaman tradisional Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan menjadikan sebagai bahan baku ekstrak sediaan herbal terstandar, menggunakan standar mutu sebagai parameter. Ekstrak herbal terstandar yang meliputi pengujian organoleptik ekstrak, dengan hasil menunjukkan semua ekstrak EKBB berwarna coklat tua, rasa sepat, bertekstur serbuk dan memiliki bau yang khas, pengujian kadar senyawa ekstrak EKBB asal Bantaeng yang larut air 13,48% dan kadar senyawa yang larut etanol 1,84%. Kadar senyawa ekstrak asal Malino yang larut air 14,89% dan kadar senyawa yang larut etanol 3,61%. Kadar senyawa EKBB asal Pare-Pare yang larut air 14,76% dan kadar senyawa yang larut etanol 2,48%. Profil senyawa kimia masing-masing ekstrak dilakukan dengan metode KLT- Densitofotometrik yaitu ekstrak EKBB menunjukkan bahwa daerah Bantaeng, Malino dan Pare-Pare mengandung senyawa golongan flavonoid, senyawa golongan flavonoid ditandai dengan bercak noda berwarna biru pada penyemprotan dengan reagen sitroborat. Total rata-rata kandungan flavonoid senyawa EKBB Bantaeng 1,10%, Malino 1,06% dan Pare-Pare 1,05% dihitung sebagai kuersetin.
References
2. Bisset, N. G. 1955. A phytochemical Survey Of Some Plants From The South Moluccas. Treub laboratory. Kebun Raya Bogor. 137.
3. Silbinol. S. C., 2000, A Rich Sources OF Polyphenolic Compounds Of Pterospermum marsupium, Phytochemistry Sabinsa Corporation, 70
4. Camporese , A., Balick, M.J., Arvigo, R., Esposito, R. G., Morsellino, N., De Simone, F, A. 2003. Screening Of Anti Bacterial Activity Of Medicinal Plants From Belize (Central America).Journal Of Etnopharmacology 87(2003):103 – 107.
5. Stalikas, D.C. Extraction, Separation, and Detection Method for Phenolic Acid and Flavonoid. Journal Sep. Sci. 2007. Hal. 30, 3268-3295
6. Sossef, M. S., M.,Hong,L.T. and Prawirohatmodjo,S. 1998. Plant Resources of South - East Asia No 5 (3). Prosea Bogor Indonesia 479-482.
7. Saifudin, A., Rahayu, V., dan Teruna, HY. Standardisasi Bahan Obat Alam. Graha Ilmu. Jakarta. 2011. hal. 1-4, 69.
8. Departemen Kesehatan RI, (2000), Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, EdisiI, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan,Direktorat Pengawasan ObatTradisional, Bakti Husada,Jakarta, Hal.1-56, 18– 29
9. Hariyati, S. Standardisasi Ekstrak Tumbuhan Indonesia, Salah Satu Tahapan Penting Dalam Pengembangan Obat Asli Indonesia. 2005. Available from: Majalah InfoPOM Volume 6 Nomor 4 Juli 2005. hal. 1-5.
10. Heyne,K,. Tumbuhan berguna Indonesia. Jilid III, Terjemahan oleh Balitbang Kehutanan. Yayasan Sarana Warna aya: Jakarta. 1987. Hal. 1352-1353.
11. Harborne, J.B. 1987.Metode Fitokimia. Terjemahan oleh Padmawinata K &Soediro I.Bandung. Penerbit ITB. Hal. 120
12. Shukla, S.S.,Swarnlata S.,dan Shailendra S. TLC densitometric ?









